SAMARINDA, KALTIM – Setelah berlangsung selama 4 hari yakni sejak tanggal 27 hingga 30 Juli, East Borneo International Folklore Festival (EBIFF) yang diikuti enam (6) negara dan Indonesia khususnya Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) yang menjadi tuan rumah, resmi ditutup.
Penutupan dihadiri Sekretaris Daerah (Sekda) Kaltim Dra. Sri Wahyuni, M.P.P, yang ditandai dengan pemukulan rampak bedug di Gelora Kadrie Oening, Samarinda, Selasa (30/7/2024) malam.
Perlu diketahui EBIFF adalah festival budaya internasional yang bertujuan untuk mempromosikan kebudayaan dan pariwisata Kaltim, serta membangun jaringan antar budaya dan meningkatkan pemahaman lintas budaya mancanegara.
EBIFF 2024 menjadi panggung bagi delegasi dari pelaku kesenian yang berasal dari enam negara yang berbeda. Yaitu Bulgaria, Jepang, Korea Selatan, Polandia, Amerika Serikat, dan Mesir. Serta partisipan pelaku seni dari seluruh Indonesia termasuk provinsi Kalimantan Timur. Mereka menyatu dalam keindahan tarian malam perpisahan yang menggambarkan kekayaan budaya dari berbagai penjuru dunia yang menyatu menjadi satu.
Dalam penutupan acara, Sekda Kaltim mengatakan menjadi sebuah kebanggaan Provinsi Kalimantan Timur khususnya kota Samarinda bisa menjadi tuan rumah dari festival EBIFF 2024.
Dia juga mengatakan EBIFF merupakan event yang pertama di Provinsi Kaltim yang dilaksanakan oleh Pemprov Kaltim. Namun festival serupa sudah pernah dilaksanakan di Kabupaten Kutai Kartanegara.
Festival EBIFF bukan sekedar pertunjukan seni budaya, namun juga dapat menjalin ikatan persahabatan antar negara melalui budaya. Oleh karena itu festival EBIFF akan menjadi festival tahunan.
“Festival ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan sebuah upaya promosi pariwisata yang strategis dan menjalin ikatan persahabatan antara negara,” ungkapnya
Kekuatan seni budaya yang dibalut dengan kekuatan artistik yang luar biasa yang digarap secara profesional, memperlihatkan bagaimana budaya dapat menyatukan bangsa melalui sebuah seni.
Dalam kemeriahan penutupan EBIFF, banyak pelaku seni yang menampilkan seni khas dari negaranya masing-masing. Begitu juga Indonesia terutama Kalimantan Timur yang menjadi tuan rumah. Salah satunya penampilan dari sanggar Seni Asli Kaltim Apo Lagaan Samarinda yang pelaku seninya berasal dari Mahakam Ulu.
Sanggar Seni Apo Lagaan beranggotakan Natalino Eric Lirin, Alfonsus Bang Ding, Agri Silvester Tegun, dan Elisabeth Huring dari Long Pahangai, Goldefridus Firdanis Jau dari Lutan, Monica Uring dan Arnoldus Jansen Kuleh dari Long Tuyoq, Mathea Kelawing dan Adreas Sului dari Long Hubung, serta Monica Husun dan Gregorius Milang Kamil dari Long Lunuk.
(Diskominfostandi/Red)














